Dampak Karhutla: Omzet Warung Makan Perantau Lamongan di Kalimantan Menurun, Dapur Harus Tetap Ngebul di Tengah Kepungan Asap

Foto warung makan pecel lele kremes yang sepi akibat karhutla Kalimantan 

KALIMANTAN, SimpulNews.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap tebal tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat dan merusak ekosistem, tetapi juga memberikan pukulan telak bagi perekonomian warga. Salah satu kelompok yang paling merasakan imbasnya adalah para perantau asal Lamongan, Jawa Timur, yang menggantungkan hidup dari usaha warung makan di berbagai wilayah Kalimantan.

Di tengah kondisi udara yang semakin memburuk, aktivitas masyarakat lumpuh dan jumlah pengunjung warung makan merosot tajam. Para pedagang kecil kini dihadapkan pada realitas pahit: pemasukan harian anjlok, sementara biaya operasional dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.

Ujian Berat Pedagang di Sampit 
Keluh kesah ini dirasakan langsung oleh Bowo, pemilik Warung Pecel Lele Lamongan di Sampit, Kalimantan. Ia tetap berusaha membuka warungnya meski kondisi lingkungan tidak lagi mendukung aktivitas usaha seperti sedia kala.

Bagi Bowo, situasi ini menjadi ujian berat bagi keberlangsungan usaha yang menjadi tulang punggung keluarga. Warung yang biasanya buka hingga pagi hari kini terpaksa memotong jam operasional. Kabut asap yang menyelimuti kawasan membuat aktivitas berdagang semakin sulit, sementara pelanggan yang datang semakin jarang.
Persoalan tidak berhenti pada sepinya pembeli. Bowo juga harus berhadapan dengan sejumlah kendala logistik, mulai dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), sulitnya memperoleh tabung gas LPG, hingga masalah ketersediaan air bersih yang dilaporkan terasa asin.

Kondisi ini membuat kegiatan memasak dan melayani pelanggan menjadi tantangan tersendiri. Padahal, dalam usaha kuliner, ketersediaan bahan bakar dan air bersih adalah kebutuhan mutlak agar dapur tetap bisa beroperasi. 

"Tagihan listrik tetap harus dibayar, biaya air juga terus berjalan. Kebutuhan untuk menjaga dapur tetap mengepul harus dipenuhi meskipun omzet tidak lagi seperti hari-hari normal," keluh Bowo.

Kondisi ini menggambarkan beratnya perjuangan pelaku usaha mikro yang tidak memiliki cadangan keuangan memadai untuk menghadapi gangguan usaha berkepanjangan.

Tetap Berjualan di Tengah Kabut Tebal

Nasib serupa dialami Eni, pemilik warung makan khas Lamongan yang menjual nasi dan pecel lele di Jalan Tiung 3, RT 13, tepat di depan lapangan Gubah.

Kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan tersebut membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin berat. Penggunaan masker menjadi kewajiban untuk mengurangi paparan langsung saat beraktivitas di luar ruangan. Gangguan akibat asap juga berdampak pada sektor pendidikan, di mana sejumlah sekolah di sekitar lokasi terpaksa diliburkan demi keselamatan peserta didik.

Situasi tersebut secara otomatis memperlambat perputaran ekonomi warga. Ketika aktivitas masyarakat berkurang, peluang pedagang mendapatkan pelanggan juga semakin terbatas. Meski demikian, Eni memilih untuk tetap membuka warungnya dengan sabar sembari berharap situasi segera membaik.

"Alhamdulillah, disyukuri meskipun pemasukan berkurang," ujar Eni singkat.

Pernyataan tersebut mencerminkan keteguhan pelaku usaha kecil yang berusaha bertahan di tengah keadaan sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga kesehatan keluarga; di sisi lain, mereka tetap membutuhkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ancaman Kesehatan dan Tekanan Ekonomi  
Penurunan omzet menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha mikro. Berbeda dengan usaha berskala besar yang memiliki cadangan modal, warung makan kecil umumnya mengandalkan pemasukan harian (cash flow) untuk memenuhi kebutuhan operasional dan rumah tangga.

Apabila keadaan ini berlangsung lama, modal usaha berisiko terkikis karena pemasukan tidak cukup untuk menutup seluruh biaya. Pedagang juga harus mempertimbangkan risiko bahan makanan yang tidak terjual dan basi. Pilihan yang dihadapi pun tidak mudah: tetap buka dengan risiko kesehatan dan pendapatan minim, atau menutup warung yang berarti menghentikan pemasukan sama sekali.

Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak luas. Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk gangguan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan atau jantung. Penggunaan masker biasa seringkali tidak cukup untuk melindungi dari partikel halus asap (PM2.5), sehingga masyarakat perlu mengikuti rekomendasi kesehatan setempat dan membatasi aktivitas luar ruangan.

Kebakaran di Melawi Tambah Kekhawatiran  
Di tengah persoalan kabut asap yang meluas, laporan kebakaran hutan dan lahan juga datang dari Dusun Sulub Permai, Desa Ulak Muid, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pada 13 Oktober 2026, kebakaran dilaporkan menghanguskan ratusan hektare semak belukar dan perkebunan kelapa sawit milik warga. Api disebut terus meluas hingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan permukiman di sekitarnya.

Menurut kesaksian warga, titik awal kebakaran diduga berasal dari lahan kosong di wilayah Desa Maris Permai, Kecamatan Tanah Pinoh, sebelum merambat hingga memasuki kawasan Dusun Sulub Permai.

Masyarakat mendesak agar perusahaan yang beroperasi di kawasan terkait, termasuk Mukti Group dan PT AKM, bersama satuan tugas penanganan karhutla segera mengambil langkah nyata untuk mencegah kebakaran semakin meluas. Sementara itu, kualitas udara di Desa Ulak Muid dilaporkan masuk kategori berbahaya akibat tingginya paparan partikel halus PM2.5.

Penanganan Harus Menyentuh Akar Masalah 
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api ketika kebakaran sudah meluas. Pencegahan harus dilakukan secara konsisten melalui pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, pemantauan titik panas (*hotspot*), serta kesiapan personel dan peralatan pemadam.

Lahan gambut membutuhkan perhatian khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan kembali menimbulkan asap meskipun kobaran di permukaan telah mereda. Kondisi cuaca kering dan fenomena El Niño juga dapat meningkatkan risiko kebakaran dan menyulitkan proses pemadaman.

Pemerintah, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat perlu memperkuat koordinasi. Jika ditemukan unsur kesengajaan atau kelalaian yang melanggar hukum, penanganannya harus dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan yang berlaku.

Perlindungan Nyata untuk Pedagang Kecil  
Bagi Bowo dan Eni, persoalan karhutla terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin tidak berada tepat di lokasi awal kebakaran, tetapi harus menghadapi konsekuensi ekonomi ketika asap mengganggu aktivitas masyarakat.

Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa bencana lingkungan memiliki dampak berlapis. Selain kerusakan hutan, ancaman kesehatan, dan gangguan pendidikan, ada pula pendapatan keluarga yang berkurang serta biaya hidup yang terus berjalan.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait perlu memastikan bantuan kesehatan dan informasi kualitas udara tersedia bagi masyarakat terdampak. Apabila gangguan usaha berlangsung berkepanjangan, pendataan pelaku usaha mikro yang terdampak dapat menjadi dasar untuk memberikan dukungan ekonomi yang tepat sasaran dan transparan.

Jangan biarkan dapur rakyat padam. Ketika hutan terbakar dan asap menutup langit, yang ikut terancam bukan hanya pepohonan dan satwa liar, tetapi juga kehidupan warga, pendidikan anak-anak, serta usaha kecil yang setiap hari berjuang agar dapur tetap ngebul. Masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar imbauan, agar dapat kembali beraktivitas dengan aman dan mencari nafkah tanpa terus dibayangi bencana yang sama.

(Sami'an)